Senin, 30 Januari 2017

Sebuah Nama Sebuah Cerita

PART I
Khanza Al-Qaniyah, itu adalah nama seorang gadis cantik yang mempunyai mata unik. Ia lahir pada tanggal 28 September 1993. Gadis tersebut biasa dipanggil Anza oleh teman-teman seangkatannya. Anza merupakan gadis yang baik karena itu dia sangat dekat dengan semua temanya, baik itu cowok maupun cewek. Namun, Anza hanya punya satu sahabat yang paling Anza sayangi, Fatihatun Nikmah. Setiap hari mereka selalu bersama pergi ke sekolah dengan tangan yang saling berpegangan. Persahabatan yang romantis.
-Di sekolah-
Suatu ketika, Nikmah ingin curhat tentang pria yang ia sukai .
Nikmah : “Anza, kamu  tahu nggak  Azam tadi nyapa Nikmah. Senyumnya ituloh, manis banget” (Nikmah senyum-senyum gak jelas)
Khanza : “Oh ya? Wiihh. Azam memang pria yang sangat ramah di sekolah kita. Dia anak yang sholeh . kamu lihat aja apa yang sering dia lakuin setiap harinya.”
Nikmah : “Kamu perhatiin yaa? Jangan-jangan kamu suka sama Azam lagi. Wkwk..”
Khanza : “Ya Allah Mah, enggak ah. Kan kamu yang suka sama dia.”
Nikmah : “Bagus deh. Tapi, kalaupun kamu suka, gapapa sih. Nikmah rela kok ngorbanin dia demi kamu.”
Khanza : “Wosh, ngawur aja kamu Mah. Awas termakan omongan sendiri.”
Mereka tertawa saling berpandangan, disaat itu Khanza berharap persahabatan mereka akan selalu utuh apapun yang terjadi. Kemudian tak lama Khanza pergi meninggalkan Nikmah ingin ke kamar mandi. Khanza berjalan dengan sesegera mungkin tidak melihat ke depan, namun dengan menundukkan kepala dengan gaya yang sangat feminim. Tiba-tiba…
Khanza  : “Aduhh..” (terjatuh)
Azam     : “Astagfirullah.. Maafin aku yaa Niyah. Kamu mau kemana kok buru-buru gitu?”
   Khanza  : (Berdiri dan menatap dengan terkejut kecil) “Hm… Enggak enggak, aku yang salah.         Maaf yaa Zam, aku cuma mau ke kamar mandi doang kok.”
   Azam     : “Oh iyaiya gapapa. Silahkan! Assalamualaikum Niyah.”
Khanza   : “Terima kasih. Walaikum salam.” (pergi meninggalkan Azam)
Niyah. Itu adalah sebutan yang diberikan Azam kepanda Khanza Al-Qaniyah. Azam memangggil gadis cantik tersebut dengan sebutan yang berbeda dari yang lain. Namun, Khanza tidak terlalu mau tahu apa alasan Azam memanggilnya dengan sebutan yang berbeda. Karena baginya itu juga bagian dari namanya. Tidak masalah orang memanggilnya dengan sebutan apapun.

Di dalam kelas, Azam ingin mengobrol dengan Nikmah. Tentunya Nikmah sangat senang dan bahagia.
                Azam     : “Assalamualaikum Nikmah. Kamu lagi apa nih?”
   Nikmah   : “Nikmah lagi santai aja, nungguin Anza tuh lama banget, katanya kami bakal diajak ke rumah dia setelah pulang sekolah ini.”
Azam     : “Oh ya? Aku juga tadi jumpa dia. Aku kok nggak diajak yaa?”
Nikmah : “Iya, ini dia mau diumumin sama Anza, kita tunggu dia datang aja.”
Tak beberapa lama beberapa teman mereka datang dan mengusik pembicaraan tersebut.
                Zakiyah : “Huu… Cieee. Apaan nihh, dilarang berduaan tauukk..”
                Azizah   : (seketika mengeluarkan suara emas) “Saat bahagiaku duduk berdua denganmu. Hanyalah bersamamu…”
                Azam     : “Yang lagi berduaan siapa cobak? Orang kita ramai kok.”
                Hafitz    : “Tapi kan yang diajak bicara cuma Nikmah, kan sama aja!”
                Azam     : “Astaghfirullah..” (seraya menghela nafas)
                Nikmah : “Ya ampun ampun, terserah kalian deh.”
Khanza pun datang dengan membawa senyumannya yang sangat manis.
                Khanza : “Teman-teman nanti pulang sekolah kita ke rumah ku ya.”
                Zakiyah : “Ada makanannya nggak?”
                Fachri    : “Betul tuh. Kitakan tahu, ntar kalau gak ada makanan, Azizah ngamuk lagi,       wkwk”
Fachri tertawa terbahak-bahak diikuti teman-teman yang lainnya, sehingga membuat emosi Azizah memuncak olehnya.
                Azizah   : “Fachriiiiiiiiii!!!!”
                Nikmah : “Apaan sih orang kita mau silahturahmi kok.”
                Azam     : “Namun, ada saatnya manusia itu lapar dan butuh makanan.” (dengan mengeluarkan bahasa alaynya)
                Zakiyah : “Wiihh, kok lebay-lebayan gini yaa-_-“
                Nabilla  : “Kalian ini kok seperti anak-anak. Kita ini udah kelas 3 SMA. Sebentar lagi tamat dari sekolah ini. Udah dewasa loh.”
                Anisah  : “Maka dari itu kita ngabiskan waktu dengan mengulang masa lalu. Kan kita bentar lagi pisah!” (Anisah memainkan matanya dengan sangat imut)
                Zakiyah : “Setuju!!!”
                Fikri        : “Kok jadi adu pendapat gini ya? Lebih baik kita mempersiapkan diri karena….”
                Zakiyah : “Karena apa Ri?”
                Rinaldi   : “Lonceng sebentar lagi berbunyi! Tuuh.. “ (menunjukkan jam dinding)
Teng… Teng… Teng…

Bersambung....