Khanza Al-Qaniyah, itu adalah nama seorang gadis cantik yang
mempunyai mata unik. Ia lahir pada tanggal 28 September 1993. Gadis tersebut
biasa dipanggil Anza oleh teman-teman seangkatannya. Anza merupakan gadis yang
baik karena itu dia sangat dekat dengan semua temanya, baik itu cowok maupun
cewek. Namun, Anza hanya punya satu sahabat yang paling Anza sayangi, Fatihatun
Nikmah. Setiap hari mereka selalu bersama pergi ke sekolah dengan tangan yang
saling berpegangan. Persahabatan yang romantis.
-Di sekolah-
Suatu ketika, Nikmah ingin curhat tentang pria yang ia sukai
.
Nikmah : “Anza, kamu
tahu nggak Azam tadi nyapa
Nikmah. Senyumnya ituloh, manis banget” (Nikmah
senyum-senyum gak jelas)
Khanza : “Oh ya? Wiihh. Azam memang pria yang sangat
ramah di sekolah kita. Dia anak yang sholeh . kamu lihat aja apa yang sering
dia lakuin setiap harinya.”
Nikmah : “Kamu perhatiin yaa? Jangan-jangan kamu suka
sama Azam lagi. Wkwk..”
Khanza : “Ya Allah Mah, enggak ah. Kan kamu yang suka
sama dia.”
Nikmah : “Bagus deh. Tapi, kalaupun kamu suka, gapapa
sih. Nikmah rela kok ngorbanin dia demi kamu.”
Khanza : “Wosh, ngawur aja kamu Mah. Awas termakan
omongan sendiri.”
Mereka tertawa saling berpandangan, disaat itu Khanza
berharap persahabatan mereka akan selalu utuh apapun yang terjadi. Kemudian tak
lama Khanza pergi meninggalkan Nikmah ingin ke kamar mandi. Khanza berjalan dengan
sesegera mungkin tidak melihat ke depan, namun dengan menundukkan kepala dengan
gaya yang sangat feminim. Tiba-tiba…
Khanza : “Aduhh..” (terjatuh)
Azam : “Astagfirullah.. Maafin aku yaa Niyah.
Kamu mau kemana kok buru-buru gitu?”
Khanza :
(Berdiri dan menatap dengan terkejut
kecil) “Hm… Enggak enggak, aku yang salah. Maaf yaa Zam, aku cuma mau ke kamar
mandi doang kok.”
Azam :
“Oh iyaiya gapapa. Silahkan! Assalamualaikum Niyah.”
Khanza : “Terima kasih. Walaikum salam.” (pergi meninggalkan Azam)
Niyah. Itu adalah sebutan yang diberikan Azam kepanda Khanza
Al-Qaniyah. Azam memangggil gadis cantik tersebut dengan sebutan yang berbeda
dari yang lain. Namun, Khanza tidak terlalu mau tahu apa alasan Azam
memanggilnya dengan sebutan yang berbeda. Karena baginya itu juga bagian dari
namanya. Tidak masalah orang memanggilnya dengan sebutan apapun.
Di dalam kelas, Azam ingin mengobrol dengan Nikmah. Tentunya
Nikmah sangat senang dan bahagia.
Azam : “Assalamualaikum Nikmah. Kamu lagi apa
nih?”
Nikmah : “Nikmah lagi santai aja, nungguin Anza tuh lama banget, katanya
kami bakal diajak ke rumah dia setelah pulang sekolah ini.”
Azam : “Oh ya? Aku juga tadi jumpa dia. Aku kok nggak diajak yaa?”
Nikmah : “Iya, ini dia mau diumumin sama Anza, kita tunggu dia datang aja.”
Tak beberapa lama beberapa teman mereka datang dan mengusik
pembicaraan tersebut.
Zakiyah : “Huu… Cieee. Apaan nihh, dilarang berduaan
tauukk..”
Azizah : (seketika
mengeluarkan suara emas) “Saat bahagiaku duduk berdua denganmu. Hanyalah bersamamu…”
Azam : “Yang lagi berduaan siapa cobak? Orang kita
ramai kok.”
Hafitz : “Tapi kan yang diajak bicara cuma Nikmah,
kan sama aja!”
Azam : “Astaghfirullah..” (seraya menghela nafas)
Nikmah : “Ya ampun ampun, terserah kalian deh.”
Khanza pun datang dengan membawa senyumannya yang sangat
manis.
Khanza : “Teman-teman nanti pulang sekolah kita ke
rumah ku ya.”
Zakiyah : “Ada makanannya nggak?”
Fachri : “Betul tuh. Kitakan tahu, ntar kalau gak
ada makanan, Azizah ngamuk lagi, wkwk”
Fachri tertawa terbahak-bahak diikuti teman-teman yang
lainnya, sehingga membuat emosi Azizah memuncak olehnya.
Azizah : “Fachriiiiiiiiii!!!!”
Nikmah : “Apaan sih orang kita mau silahturahmi kok.”
Azam : “Namun, ada saatnya manusia itu lapar dan
butuh makanan.” (dengan mengeluarkan
bahasa alaynya)
Zakiyah : “Wiihh, kok lebay-lebayan gini yaa-_-“
Nabilla : “Kalian ini kok seperti anak-anak. Kita ini
udah kelas 3 SMA. Sebentar lagi tamat dari sekolah ini. Udah dewasa loh.”
Anisah : “Maka dari itu kita ngabiskan waktu dengan
mengulang masa lalu. Kan kita bentar lagi pisah!” (Anisah memainkan matanya dengan sangat imut)
Zakiyah : “Setuju!!!”
Fikri : “Kok jadi adu pendapat gini ya? Lebih baik
kita mempersiapkan diri karena….”
Zakiyah : “Karena apa Ri?”
Rinaldi
: “Lonceng sebentar lagi berbunyi! Tuuh..
“ (menunjukkan jam dinding)
Teng… Teng… Teng…
Bersambung....